• SMK GANESHA CIMANGGUNG
  • Smart and Success Together

Majalah SMK GANESHA

Cerpen

BY :  ADRIAN  F.A.P.

DUNIA INI BAGAI PANGGUNG SANDIWARA

“Adit, berhati-hatilah, jangan terlalu cepat, Umi khawatir kamu jatuh ke selokan itu,” “ Jangan khawatir aku akan mengikutinya dari belakang, “ kata ayahnya.  Ketika itu aku sedang belajar mengendarai sepeda kumbang yang baru dibelikan oleh ayah di depan pasar sebagai hadiah juara kesatu kenaikan kelasku ke kelas lima.  Masih teringat saat aku mengendarai sepeda, ayah berlari-lari   sambil memegang ujung sepeda mengikuti arahku, sedangkan ibuku berdiri penuh konsentrasi  terus mengingatkan dan mengintruksikan agar aku tetap berhati-hati menjalankannya agar tidak ngebut. Dan akhirnya sepeda yang kujalankan menepi mendekati ibuku yang harap-harap cemas khawatir aku jatuh, sedangkan ayahku sambil terengah-engah mengatur nafas setelah mengikutiku, tertawa penuh bahagia, karena aku sukses mengemudikan sepada kumbang tanpa jatuh.

Sambil duduk memegang sepeda baruku, ayahku mengusap-usap kepalaku sambil berkata, “Hebat jagoan Abi pandai bermain sepeda,” ibuku tak kalah hebatnya, diapun tertawa dan  berkata sambil mengurut-ngurut betisku, “ Siapa dulu dong Uminya.” Kami bertiga sangat berbahagia, terutama aku yang sangat dibanggakan oleh mereka. Kasih sayang mereka kepadaku kurasakan sangat luar biasa, seakan-akan setiap denyut jantungku, setiap kedipan mataku, dan setiap aktivitasku tak pernah lepas dari pantauan kasih sayang Ayah dan Ibu. Seperti sudah menjadi tradisi di keluargaku, ayah dan ibu setiap aku akan berangkat dan pulang dari sekolah atau pengajian senantiasa mengusap-usap rambutku sambil berkata,” Semoga kamu menjadi anak yang saleh dan sukses.”

Hal tersebut berlanjut sampai sekarang, walaupun kini hanya ibu saja yang mengatakan itu. Aku rasanya merasa belum afdol ketika pergi dan pulang kerja belum diusap rambutku oleh ibuku . Aku tak akan masuk rumah apabila ibuku masih di pengajian, namun secara reflek sengaja kudatangi ke sana untuk diusap rambutku sebagai bentuk memohon kasih sayangnya dan doanya bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Dan barulah  dengan perasaan lega, aku masuk ke rumah.

Sebelum dua saudara perempuanku meninggal dunia, kedua orang tuaku membagi rata kasih sayang yang berlimpah. Adikku yang perempuan dan kakakku yang perempuan,  meninggal dunia dalam hari yang sama, karena serangan DBD. Ayah dan ibuku sangat terpukul atas kejadian itu. Aku sering  melihat ayah meneteskan air mata saat berdoa, bahkan ketika ibu pergi ke pengajian untuk mengajar para santri, ayah sambil menungguku di rumah, matanya sering kulihat hampa, namun ketika kudekati, ayah seolah-olah tidak terjadi apa-apa dalam lubuk hatinya.

Kiranya kesedihannya tak ingin kulihat, tetapi dia sering memelukku sambil bersyair tentang kasih sayang Allah yang harus diindahkan, di samping itupun ayahku sering bercerita tentang perjuangan para nabi ketika mensyiarkan agamanya. Aku bukanlah anak yang manja atau ingin dimanjakan, tetapi ,  ketika menjelang tidur, betisku selalu diusap-usap oleh belaian kasih tangan  ayahku, sedangkan ibuku mengusap rambutku agar aku cepat tidur dengan lelap. Sangat berbahagia aku ketika bersamanya. Ayah dan ibuku merupakan keluarga sederhana, namun sangat kaya akan  kasih sayangnya kepadaku.

Seperti biasa aku bangun tidur pukul setengah empat, karena sekitar setengah lima aku dan ayahku harus sudah berada di masjid untuk sembahyang salat subuh. Walaupun aku masih kecil, quroku cukup bagus di samping penguasaan kitab kuning seperti :  Jurumiah, Imriti, Mutola Al Hadits, Arbainawawi,  Takrrib, Apdatul Awam, Talim Mutaalim, Alfiah, dan sebagainya.  Ayah dan ibuku merupakan qori dan qoriah, di samping menguasai kitab.  Aku mengaji dua kali dalam sehari.  Setelah sembahyang Subuh mengaji quran, sedangkan setelah salat Isha mengaji kitab.

Akupun terbiasa memainkan alat-alat Marawis dan Hadroh bersama rekan-rekan santri, sehingga memetik  gitar atau menabuh kompang dan sebagainya sudah tak kaku lagi. Akupun selalu menjadi vokalis cilik waktu itu. Namun pada salat subuh kali ini, benar-benar merupakan salat terakhir aku bersama Ayah. Setelah  imam mengucapkan salam dan diikuti oleh semua mamum, tiba-tiba ayahku terkulai ke arah tubuhku, dia sempat melihatku sambil  senyum dikulum, kemudian menghempaskan nafas terakhirnya untuk kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Kepedihanku hampir tak terobati kalau ibuku dengan keimanan dan  kesejukan hatinya selalu membesarkan hatiku untuk tetap tegar menghadapi cobaan hidup. Beliau  selalu memotivasiku untuk selalu sukses dalam berbagai hal, ” Adit, Harus kamu ingat bahwa hidup ini bagai panggung sandiwara. Kamu harus sukses dalam memainkan peranmu. Allah tidak akan menguji manusia di luar kemampuan manusia tersebut. Allah Maha Rohman dan Maha Rohim. Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu,” begitulah kata-kata indah yang selalu disampaikan ibuku.

Akupun akhirnya menjawab wejangan ibuku dengan kata,” Umi, selama  jantungku masih berdetak, selama nafasku masih mengalun, aku tak akan berhenti berjuang,  kesuksesanku di dunia akan membawa kebahagiaanku di samping untuk Umi, juga untuk Abi, dan kedua saudaraku di alam fana.” Ibuku menderaikan air mata bahagia  atas  jawabanku. “ Umi bahagia dengan pernyataanmu, Dit. Kupertaruhkan raga dan nyawaku untukmu  karena Allah untuk kesuksesanmu.” Jawabnya sambil memeluk tubuh mungilku. Aku pun berkata lagi,  “Umi, surgaku ada di  bawah telapak kakimu. Aku berjanji untuk selalu membahagiakanmu semaksimal yang aku bisa.”

Hari berganti hari, bahkan tahun berganti tahun. Prestasi belajarku selalu terbaik di kelasku, bahkan saat aku melanjutkan di SMP dan SMK Ganesha Berbasis Pesantren, aku selalu menjadi Top One, termasuk menjadi Ketua OSIS dua tahun berturut-turut. Kiranya tidak ada sekolah lain yang mencalonkan siswanya untuk menjadi Ketua OSIS sejak kelas satu. Tapi Di SMK Ganesha Berbasis Pesantren,  faktor Ahlakul Karimah sangat ditonjolkan, bahkan prestasiku  selama menjadi mahasiswa di ITB semakin menonjol. Hal ini dengan diperolehnya ijazah dengan nilai Cuma laude.

Mengenai keterampilan,  akupun mampu mengendarai motor dan mobil, karena  aku sering diajak Pak Kiayi untuk mengantarkan beliau menerima undangan untuk bertausiah. Santri-santri yang sudah dewasalah yang  ditugaskan oleh Pak Kiayi untuk mengajarkanku mampu mengendarai motor dan menjadi driver. Pak Kiayi  sangat menyayangiku, karena ayah dan ibuku  merupakan santrinya kemudian dinikahkan oleh beliau.

Setelah aku menamatkan studi di ITB, tak lama kemudian aku mendapat penawaran untuk bekerja di suatu perusahaan besar yang bergerak di bidang konstruksi jalan dan perumahan. Kantor pusatnya berada di Jakarta. Setelah mendapat ridho dari Ibuku. Kini akupun menekuni pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

Setelah sarapan pagi, aku berangkat ke kantor naik angkutan umum yang menempuh perjalalan selama dua jam. Setelah sampai di pertigaan, akupun sudah terbiasa jalan kaki ke kantor, walaupun agak jauh, pikirku hitung-hitung senam pagi saja. Pekerjaan seperti ini sudah dijalani selama tiga tahun

Setiap pagi  saat aku menuju ke kantor, sering berpapasan di jalan dengan wanita itu, walaupun tidak saling kenal, karena dia mungkin bertempat tinggal di Perumahan Paramoun, berbatasan dengan tempatku bekerja, tetapi pada suatu saat ketika akan menyebrang, dia hampir terserempet oleh seorang  remaja yang mengendarai motor secara ugal-ugalan. Waktu itu aku sedikit berteriak agar dia cepat menghindar. Dan Alhamdulillah selamat dari bahaya. Kemudian dia melihatku sambil mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Aku pun membalas ucapannya.

Sepulangnya dari kantor, perasaanku sangat berbeda dari hari  biasanya. Aku melihat sinar mata perempuan itu begitu bening dan perilakunya yang sangat sopan.  “Inikah yang dinamakan  fall in love?”Entahlah, karena aku belum pernah jatuh cinta. Ingin rasanya untuk segera bertemu esok hari, agar bisa  melihat dia lagi. Tapi apakah aku mampu untuk menyapanya walau sebatas hello? Entahlah, rasanya lidahku kelu untuk mengucapkan itu.

Jam berdentang menunjukkan waktu pukul 24.00, namun mataku tak mampu kupejamkan. Ingin sekali aku beranjak lebih cepat ke esok pagi agar dapat bertemu dengannya. Ilusiku terlalu semangat rupanya memikirkan tentang bagaimana kiat dan solusi agar dia dapat menjadi istriku. “Allah, bagaimana aku  bisa salat bertahajud apabila mataku tak mau terpejam.” Gumamku, karena salat malam sudah menjadi kebiasaan sejak aku masih kecil. Ayah dan Ibukulah yang senantiasa membimbingku untuk melaksanakan salat malam di samping salat wajib.

Keesokan harinya saat akan pergi ke kantor, detak  jantungku berdebar karena berharap  akan bertemu lagi dengan calon jantung hatiku, calon pujaanku, calon istriku, dan calon bidadariku. Insya Allah  aku akan  menyapanya ataukah dia menyapaku? Dan benarlah dugaanku kulihat calon bidadariku  dari jauh berjalan menuju tujuan yang sudah biasa dilalui. Astagfirullohhaladzim, dadaku sesak dan mataku pun tak kuat melihat dia, nerves banget, akhirnya aku melirik sedikit,  itu pun dipaksakan dengan sedikit sisa tenaga cintaku, tapi tampaknya dia berjalan seperti biasanya saja, tak memperhatikanku.

Ach, bodohkah aku? Atau perasaanku saja yang bodoh. Aku sangat mahir berbicara dimanapun adanya dalam situasi apapun di hadapan orang banyak. Namun kali ini aku tekuk lutut, tak berkutik seperti terkena pukulan knock out dari Mike Iron Tison.  Cinta… cinta… tak berbanding lurus dengan nilai akademisku. tak ada sekolahnya hingga aku jadi  menderita begini . Seandainya dibuka  sekolah cinta yang terakreditasi, kiranya akulah pendaftar pertamanya.

Puisi*  Bertepuk Sebelah Tangan

Salahkah aku ini mencintaimu

Walau kau tak pernah mencintaiku

Salahkah hati ini menyayangimu

Walau kau tak pernah menyayangiku

Cintaku bertepuk sebelah tangan

Memilikimu  hanyalah sebuah angan

Yang belum pernah menjadi kenyataan

Hatiku sakit dunia pun menjerit

Terpaku di satu titik

Menantikan cinta yang takkan pernah datang

Lagu** Jikalau Kau Cinta

Judika

Jikalau kau cinta
Benar-benar cinta
Jangan katakan
Kamu tidak cinta

Jikalau kau sayang
Benar-benar sayang
Tak hanya kata atau rasa
Kau harus tunjukkan

Jangan sampai hingga waktu perpisahan tiba
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Hanya air mata
Mungkin saja cinta 'kan menghilang selamanya
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Hanya air mata cinta

Jikalau kau sayang
Benar-benar sayang
Tak hanya kata atau rasa
Kau harus tunjukkan

O-o-o-u-wo ...
(Percayalah)
O-o-o-u-wo ...
(Percayalah)
Percayalah

Ke mana pun kau acuh
Cinta tak pernah rapuh
Berpaling pun tak mampu hilangkan cinta
Percayalah

Jangan sampai hingga waktu perpisahan tiba
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Hanya air mata
Mungkin saja cinta 'kan menghilang selamanya
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Hanya air mata
Hanya air mata
Hanya air mata
Cinta

 

Selama tiga tahun  aku bekerja di kantor itu, setiap hari aku selalu berpapasan  dengannya, namun dari hari ke hari itu pulalah dia seakan-akan kalau kebetulan melihatku tampaknya seperti melihat mahluk yang lain pada umumnya. Tak ada ekspresi di wajahnya.  Kalau aku boleh usul,  Aku ingin kalaupun  dia tak ada rasa cinta, minimal suka melihatku, karena sejak kecil banyak teman, bahkan guru-guruku mengatakan bahwa  aku baik hati juga  handsome, tidak terkecuali di kampusku dulu dan di kantorku.

Terlepas dari gundahnya rasa cintaku kepadanya, aku tetap serius dan professional menjalankan pekerjaanku  insya Allah dengan baik. Tidak pernah sekalipun mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan dunia kerjaku, apalagi di kantorku selalu bersinergi dengan seniorku Pak Ferdiansyah yang biasa dipanggil Pak Ferdi. Beliau merupakan alumnus ITB pula sealmamater denganku. Beliau  seorang pejabat teladan,  mempunyai dedikasi yang tinggi, professional, bijak, dan humoris. Semua karyawan menyukainya.

Kulihat ketika Pa Ferdian datang ke kantor, searah atau mungkin sekomplek dengan gadis pujaanku. Aku tak berani curhat tentang gadis dari kompleks itu, karena dia tidak pernah berbicara tentang pribadi dan keluarganya.  Setiap saat bertemu dengan kami, beliau selalu menebar senyum dan menyapa satu per satu dengan penuh keakraban, bahkan sering  beliau mengucapkan  kalimat-kalimat humoris yang selalu membumbui indahnya bergaul  dan mencairkan suasana.

Suatu hari, tepatnya  hari Sabtu kami seluruh karyawan dan staff mendapat undangan dari beliau, katanya akan mengadakan acara syukuran  atas kelulusan putrinya yang dimulai pukul 14.00 WIB.  Aku bersama teman sekantor datang tepat pada waktunya. Ketika acara akan dimulai, beliau memperkenalkan putrinya kepada seluruh undangan. Alangkah terkejutnya aku, lututku bergetar, mungkin wajahkupun rasanya pucat pasi ketika melihat dia, ternyata eks calon bidadariku adalah putri Pak Ferdiansyah.

Aku melongo tak berkutik, rasa maluku tak terkira seandainya  pada waktu itu  aku jadi curhat kepadanya. Untunglah Allah Yang Maha Rahman dan  Maha Rahim, melindungi perasaan maluku. Dia memperkenalkan anak keduanya dari dua bersaudara yang  telah lulus menjadi sarjana kedokteran. Sambil tertawa, Pak Ferdian mengatakan bahwa nama anaknya  Merlin Permata Negeri, sambil tertawa Beliau mengatakan bahwa status putrinya  masih single.

Setelah beliau menyampaikan salam dan doanya, kemudian seluruh staff dan karyawannya  diperkenankan untuk bersalaman. Ketika aku dan dia bersalaman, tak kuat rasanya aku melihat apalagi menatapnya. Sedih dan gembira berkecamuk dalam hatiku. Sedih karena beliau merupakan putra rekan kerjaku, sedangkan bahagia, karena dia masih single.  Makanan yang tersedia dengan mewahnya, terasa hambar. Ragaku memang ada di sana, namun  jiwaku melayang-layang entah kemana akan pergi. Ingin rasanya aku cepat pergi dari rumah ini, bahkan kalau bisa, aku ingin menghilang dari rumah itu.

Puisi*  Hakikat Cinta

Cinta bukan sebatas kangen, sehingga mencari jalan untuk bertemu

Cinta bukan hanya perwujudan nafsu yang butuh pelampiasan

Cinta juga bukan cemburu berlebihan, sehingga harus ada terdakwa yang dikorbankan

Cinta bukan ungkapan sayang dan ingin selalu bersamanya

Cinta bukan kesetiaan yang setiap detik harus diucapkan seperti mantra sebelum perang

Cinta bukan sebuah arti kejujuran terdalam, karena pasti ada kemunafikan dan kepentingan

Cinta bukan emosi berkabut, hingga bunuh diri ketika ada perpisahan

Cinta bukan merasa kebenaran yang setiap saat memerlukan ketuk palu pembebasan

Cinta bukan pembebasan tak bertuan, sehingga butuh pasukan khusus untuk merebutnya

Cinta bukan misteri malam, hingga butuh pelita untuk penerangan

Tapi,  cinta adalah semuanya, tanpa batas dan tanpa sekat

Ya  Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkannya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu

Ya  Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya, agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya  Allah,  jika aku jatuh hati,  izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya selalu takut pada-Mu agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu

Ya Robbana,  jika aku jatuh hati,  jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu

Ya Robbil Izzati,  jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu

Ya Allah,  jika aku menikmati cinta kekasihku, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih,  jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu

Ya Allah, jika kau halalkan aku merindui kekasih, jangan biarkan aku melampaui batas, sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-mu.

Lagu ** Cinta Karena Cinta

Judika

Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan kubicara
Agar kau juga dapat mengerti

Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tahu mengapa
Yang kutahu inilah cinta

Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara

Kamu yang buat hatiku bergetar
Senyumanmu mengartikan semua
Tanpa aku sadari
Merasuk di dalam dada

Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Ho-oo ai-ya ha-a

Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara

 

Astagfirulloh haladzim, kupikir Dia sudah berkeluarga, ternyata masih single. Aku bahagia, berharap-harap  cemas, dan  entahlah apa yang harus kuperbuat, karena aku walaupun sudah mapan secara ekonomi dan kedewasaan,  aku termasuk generasi  milenial, namun tak pernah berjalan bersama dengan wanita sebagaimana pasangan kekasih masa kini, karena ibuku  selalu menasihati agar aku harus berusaha untuk menjadi anak yang saleh, bisa memilah-memilih mana perbuatan  yang baik dan buruk, karena katanya hidup di dunia ini hanya sesaat , dan merupakan bekal untuk memasuki alam yang abadi.

Aku menyadari benar dan  sangat menyesal telah jatuh ke lembah kecerobohan, mudah mengambil kepastian yang belum tentu valid  kebenarannya.” Allah, maafkanlah makhlukmu yang sangat lemah ini,” gumamku . Sebenarnya pada saat itu, ketika seperti biasanya aku menjalankan rutinitas berjalan menuju kantor, kulihat dia berjalan dengan cerianya sambil menggendong anak kecil usianya kira-kira dua tahun.  Aku sangat terperanjat telah mencintai orang yang sudah berkeluarga. Pikirku pantaslah dia ketika berpapasan denganku tak pernah merespek bahwa aku pernah sedikit menolongnya, walaupun sebenarnya hal tersebut tidak perlu diingat-ingat, tetapi mungkin karena cintaku itulah yang seakan-akan mengharapkan imbalan.

Sejak itulah kututup rapat-rapat  pintu hatiku, bahkan kukunci dengan imanku.  Kuserahkan semuanya pada Allah Yang Maha Kuasa.  Aku tak pernah mau lagi melirik apalagi melihat dia. Cinta pertamaku benar-benar kandas di tangan mahluk itu. Kubangun Gunung Es untuk menjaga perasaanku dari harapan-harapan mencintainya. Tidak ada kata  gadis pujaan, tidak ada kata cintaku, tidak ada kata bidadariku untuk dia. Kini melalui imanku  aku alihkan kekecewaan ini melalui meningkatkan etos kerja yang sangat serius. Mudah-mudahan sangat bermanfaat untuk perusahaan tempat aku bekerja.

Puisi*  Maaf, Aku Memilih Pergi

Ikhlaskanlah kepergianku

Maaf, bukan karena aku tak lagi mencintaimu

Jika nantinya kau tak lagi melihatku

Tak lagi kau temui aku dari pandangan matamu

Jika nanti .. kau tak lagi melihatku

Tak lagi kau temui aku dari pandangan matamu

Ikhlaskanlah kepergianku

Suatu hari nanti kau tak akan lagi melihatku

Kau tak akan lagi menemukan di setiap harinya

Atau bahkan.. Tak  ada lagi jumpa

Yang pernah kita buat saat rindu mendera

Aku sengaja mengetam hasrat cinta

Yang tak seharusnya kita lalui tanpa ikatan

Bukan… bukan karena aku tak lagi mencintaimu

Tapi,  karena benar aku ingin mencintai

Dalam naungan Allah Swt

Akupun ingin menjagamu

Kau salah, jika kau katakan takkan bisa hidup tanpaku

Kau salah, Jika kau katakan     tak mampu meredam rindu padaku

Kau tak sepantasnya mengatakan itu

Karena semakin kau cecar aku dengan perkataan itu

Aku akan semakin bersalah padamu

Aku hanya tak ingin kita membalut kesucian dengan kemunafikan

Apa? Yang seharusnya menjadi fitrah kita kecuali dengan sikap yang

Tidak seharusnya

Jangan,, Cukuplah…

Aku memang masih mencintaimu

Jika aku tak ada lagi untukmu

Ikhlaskanlah kepergianku

Hingga satu waktu kau bersama denganku

Dalam satu janji yang telah Allah takdirkan

Lagu** Jadi Aku Sebentar Saja

Judika

Telah lama kau tinggalkan ku
Sempat sia-siakan aku

Pergi jauh titipkan perih
Tak sedikitpun peduli

Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah

Pergi jauh titipkan perih
Tak sedikitpun peduli

Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah

Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah

Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah

Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah
Begitu parah

 

Lamunanku terganggu saat para undangan pamitan untuk meninggalkan rumah Pak Ferdian. Aku pun berdiri untuk bersalaman dengan rekan senior yang sangat baik. Aku merupakan antrian terakhir untuk meninggalkan rumah beliau. Pada saat berjabat tangan , beliau memperkenalkan diriku  pada putrinya, bahwa aku merupakan rekan kerja yang sangat bersinergi dengannya, beliau memujiku bahwa aku merupakan  muadzin yang bersuara merdu, staff yang sangat pintar, enerjik, penuh dedikasi, bahkan yang sangat mengherankan beliau mengatakan lagi pada putrinya bahwa aku merupakan anak semata wayang. Kupikir mungkinkah dia membaca CV-ku? “Tapi nothing to lose, kata itu merupakan  info positif buatku.

Aku tersenyum dan maklum ketika mendapat pujian beliau, karena baik selama aku di  kampungku, sekolah, dan di kampus , kata-kata itu sudah sering kudengar untukku. Aku membalas jawaban beliau dengan kata” Aamiin”, akupun pulang  meninggalkan  keluarga besar Pak Ferdian.

Sesampainya di rumah,  aku merebahkan  diri di kamarku . Angin semilir mengantarkan kesejukan masuk ke jendela yang sengaja kubuka keduanya. “Rumahku Istanaku,” Gumamku, walaupun sederhana, namun banyak memberiku inspirasi, cita-cita, ketenangan, kenangan  dan kedamaian. Rumahku berada di komplek pesantren. Pak Kiayilah yang membuatkan rumah untuk keluargaku, agar kedua orang tuaku tidak jauh untuk mengajar para santri di sana.  Aku merasa tenang dan bahagia  hidup dalam lingkungan pesantren, tidak saja lahirku, tapi batinkupun benar-benar nyaman berada di lingkungan  orang-orang saleh dan   ahli pengajian.

 

Puisi* Pesan Ibu Tentang Ayah

Anakku. Memang ayah tak mengandungmu

Tapi, Darahnya mengalir di dalam darahmu

Darinya kau diwarisi namanya

Kedermawanan dan kerendahan hati

Suara ayahmulah yang pertama

Mengantarkanmu pada Allah

Melalui adzan ketika kau lahir

Memang ayah tak menyusuimu

Tapi, dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu

Memang ayah tak menjagamu setiap saat

Tapi,  tahukah kau dalam doanya tak pernah terlupa namamu disebutnya

Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar

Karena dia ingin terlihat kuat

Agar kau tak ragu untuk berlindung dengannya

Dan di dadanya ketika merasa tak aman

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat ibumu

Karena cintanya dia takut tak sanggup melepaskanmu

Ayahmu ingin agar ketika kami tiada, kau mampu kuatkan semangat

Ayahmu ingin kau sanggup menghadapi semua sendiri

Agar ketika kami tiada kau  mampu kuatkan semangat

Ibu hanya ingin kau tahu bahwa cinta ayah kepadamu

Sama besarnya seperti  cinta ibu kepadamu

Anakku…Dari dirinya juga terdapat syurga bagimu

Hormati dan sayangi ayahmu

Karena ibu adalah tulang rusuknya

Lagu** Gus Azmi Syubbanul Muslimin - Rindu Ayah

Ku berdoa pada Allah Taala
Semoga engkau baik-baik saja
Ku menangis bila ingat wajahmu
Ayahku sangat merindukanmu

Ayahku salamkan rindu
Untuk engkau yang kini jauh dariku
Ayah kan kuingat selalu
Pengorbanan dan semua jasa-sasamu

Ayah ku ingin kuingin engkau di sini
Temani ku melangkahkan kaki
Ayah … tak bisa aku ingkari
Tanpa engkau hidupku tersa sepi

Ayah kusalamkan rindu
Untuk engkau yang kini jauh dariku
Ayah kan kuingat selalu
Pengorbanan dan semua jasa-jasamu

Ayah kuingin engkau di sini
Temaniku melangkahkan kaki
Ayah tak bisa aku ingkari
Tanpa engkau hidupku terasa sepi

Kuberdoa pada Allah taala
Semoga engkau baik-baik saja
Ku menangis bila ingat wajahmu
Ayah kusangat merindukanmu

Ayah kusalamkan rindu
Untuk engkau yang kini jauh dariku
Ayah kan kuingat selalu
Pengorbanan dan semua jasa-jasamu

Ayah kuingin engkau di sini
Temaniku melangkahkan kaki
Ayah tak bisa aku ingkari
Tanpa engkau hidupku terasa sepi
Keringatmu adalah kasih sayang
Rasa cinta yang tak pernah hilang
Aku rindu air mata berlinang
Ayah selamanya kukenang
Ayah ku salamkan rindu
Untuk engkau yang kini jauh dariku
Ayah kan kuingat selalu
Pengorbanan dan semua jasa-jasamu
Ayah kuingin engkau di sini
Temaniku melangkahkan kaki
Ayah tak bisa aku ingkari
Tanpa engkau hidupku terasa sepi
Keringatmu adalah kasih sayang
Rasa cinta yang tak pernah hilang
Aku rindu air mata berlinang
Ayah selamanya kukenang

Ayah kusalamkan rindu
Untuk engkau yang kini jauh dariku
Ayah kan kuingat selalu
Pengorbanan dan semua jasa-jasamu
Ayah kuingin engkau di sini
Temaniku melangkahkan kaki
Ayah tak bisa aku ingkari
Tanpa engkau hidupku terasa sepi

Ku berdoa pada Allah taala
Semoga engkau baik-baik saja
Kumenangis bila ingat wajahmu
Ayah kusangat merindukanmu

Ayah kusalamkan rindu
Untuk engkau yang kini jauh dariku
Ayah kan kuingat selalu
Pengorbanan dan semua jasa-jasamu

Ayah kuingin engkau di sini
Temaniku melangkahkan kaki
Ayah tak bisa aku ingkari
Tanpa engkau hidupku terasa sepi
Ayah Selamanya Kukenang

 

Selama ini aku dan Pak Ferdian tidak pernah berbicara di luar kinerjaku, tetapi mengapa  dia banyak mengetahui tentang privasiku sebagai anak satu-satunya dan hal lain kepada putrinya? Apakah dia ingin menjadikan aku sebagai menantunya? Ah, terlalu jauh pradugaku. Aku tak ingin memprediksi hal-hal seperti itu, karena isi hatiku kiranya tidak aware terhadap cinta yang belum jelas. Aku masih ingat ketika itu ibuku mengatakan bahwa orang baik akan dijodohkan oleh Allah dengan orang baik lagi. Biarlah waktu yang mengantarkanku ke sana, karena usiaku pun baru 26 tahun. Bukan usia yang kritis untuk ibuku mempunyai anak yang belum kawin. Pikirku dan cita-citaku ingin mengabulkan ibu menunaikan ibadah haji sekalian membadalkan ayahku untuk memperoleh kehajian. Barulah agak lega hatiku. Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonanku. Aamiin Ya Robbal alamin.

Hari demi hari berlalu.  Aku pun bekerja seperti biasa, namun Pak Ferdian seakan-akan seperti sangat memperhatikan dan menyayangiku. Dia sering membawakan makanan-makanan yang enak untukku, katanya dari istrinya. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Semangat kerjaku semakin meningkat, bahkan pulang pun sering terlambat demi tugas yang harus selalu kuselesaikan. Pak Ferdian tak kalah semangatnya, dia tak pernah pulang sebelum aku pulang. Bukan berarti predikat teladannya akan berpindah padaku, tetapi memang itulah senior teladanku.

Sebulan setelah aku pulang dari syukuran putri Pak Ferdiansyah, tepatnya pukul tujuh pagi aku menerima WA dari seseorang yang nomornya belum kukenal, menyampaikan kabar bahwa beliau tidak dapat hadir karena sakit. Ooo, kupikir mungkin dari istrinya, aku segera menjawab, “ Siap, Bu. Akan saya sampaikan pada Pak Kepala. Semoga Bapak cepat sembuh dan dapat bersama lagi di kantor. Aamiin.”

Ternyata yang menyampaikan kabar itu bukan dari Istrinya, tetapi dari Merlin, putrinya. Kemudian melalui  video call, Merlin menjawab, “ Itu WA dari aku, Kak, bukan dari Ibu . lihat kalimatnya juga kalimat keren, lho. Milenial, gitu, sama kaya Kakak, he he” Sambil tertawa. Aku pun segera menjawab tak kalah serunya, “Maaf, Non. Kupikir dari Ibu, ternyata dari  bidadarinya, siap Boss akan saya ralat,  he he.”Dia kiranya memaklumi jawabanku yang  kurang tepat, sambil iseng, ternyata  dia humoris seperti  ayahnya, kemudian  dia berkata,  “Makanya,  ketika bersalaman denganku jangan merunduk, aku enggak ada apa-apanya dibandingkan kakak yang semakin sukses.” “Amiin. Insya Allah aku akan calling-calling, apabila Adik berkenan “ jawabku singkat. “siaap, Kak, eh Boss.” Katanya.

Dengan izin Allah, sejak percakapan melalui video call, aku jadi sering berkomunikasi dengan Merlin. Dia merupakan wanita yang cerdas, periang, dan agamis. Merlin  sering bertanya mengenai banyak hal, karena  kupikir mungkin menganggap aku  pantas sebagai partner diskusinya, namun untuk menggapai ke arah percintaan dan perkawinan  belum pernah sekalipun dibicarakan, karena masing-masing menyadari akan kesibukan di dunia pekerjaan, apalagi sekarang Merlin mulai bekerja di Rumah Sakit Umum terbesar di Bandung. Dia melaksanakan tugas mulianya menangani pasien Covid -19.

Di sela-sela kesibukannya,  Dia selalu menggunakan video call agar aku ikut mendoakannya setiap saat. Dan aku senantiasa menjawab seperti ini, “ Tetap semangat, ikhlas, berhati-hati, berdoa, dan aku selalu mendoakanmu, Dik.”Motivasi dariku selalu dijawab dengan kata,”Terima kasih, Kak. Aku sangat bahagia mendapat motivasi dari Kakak, dan mudah-mudahan kita tidak saja bisa bertemu muka dengan Kakak melalui video call, tapi bisa seperti di rumahku waktu itu  ha..ha.. jangan merunduk lagi  yaa?”  Dia mengulangi lagi kalimat itu.“Insya Allah,  jawabku tak kenal tak sayang,  he he.” Sambil tertawa Merlin  mengucapkan Aamin. Kemudian mematikan HP-nya.

“Aditia,  Bapak mendapat undangan dari Gubernur untuk mengikuti seminar tentang  Pembangunan Tata Kota Super Modern,  barangkali akan ikut serta. Ini pengting sekali,” kata  Pak Ferdian. “Siap, Boss,” kataku sambil tertawa. Diapun tertawa sambil mengucapkan, “Oke, cabut.”. Sebenarnya jawabanku bukan tak sopan, tetapi beliau begitu riang dan seru ajakannya. Akupun mengendarai mobil Alfad beliau meluncur menuju Gedung Sate. Selama di perjalanan kulihat beliau dengan penuh candanya memperlakukanku seperti anak kesayangannya, sebagaimana ayahku mengasuhku pada waktu itu. Aku sangat gembira terhadap perlakuannya yang luar biasa. Dan akhirnya sampailah aku di Kantor Gubernur.

Setelah Pak Ferdiansyah dan aku mengikuti seminar tersebut, tidak terus pulang ke kantor, tetapi  aku diajak untuk menjemput Merlin pulang dari Rumah Sakit. Akupun mengikuti ajakannya, walaupun hatiku bergetar untuk kedua kalinya setelah pertemuan pertama dengannya pada saat Merlin syukuran lulus kuliah.  Aku memohon kepada Allah agar ketika bertemu tidak grogi seperti dulu lagi. Dan hatiku bertanya,”Boss, apakah arti semua ini?”, “Tidakkah engkau tahu bahwa aku pernah menderita ketika engkau memperkenalkan putrimu? “Ataukah.. ataukah… atau… inikah cara Allah mempertemukan Arini  dengan aku?” “kiranya belum  aku seperti belum siap  untuk berjumpa dan bercakap langsung dengannya.” “Allahu berilah aku kekuatan untuk mampu berkomunikasi dengannya,” kata hatiku.

Ketika mobilku sampai di depan Rumah sakit, ternyata Merlin sudah menunggu. Alfad pun menepi untuk menaikkan penumpang spesial yang berparaskan seperti Dewi Kuan In  yang baru turun dari kahyangan. Akupun segera bergegas keluar untuk membuka pintunya, namun ketika pintu belakangnya terbuka, dia berkata kepada ayahnya,” Pah, yang namanya pejabat duduknya harus di belakang sopir, masa sekarang saya yang harus di belakang,” sambil tertawa.

Sebagai seorang yang sangat bijak, diapun turun dari kursi depannya dan pindah ke belakang sambil tertawa dia berkata ,”Kalau bukan putri cantikku yang berbicara, tidaklah aku akan pindah,” Ha ha. Akhirnya Merlin pun duduk di bangku depan di samping  sopir yang gimana gitu perasaannya.

Gunung Es yang hampir membekukan hatiku saat itu, menjadi cair secair-cairnya ibarat air aqua yang ada di botol.  Selama dalam perjalanan pulang, Aku sangat terkesan dengan keakraban dan keceriaan kedua mahluk  yang dimuliakan Allah itu. Akupun benar-benar semangat mengendarai mobil ini , karena ketiga manusia ini  sangat solid dalam berkomunikasi. Memang kalau menyikapi indahnya  pertemuan ini, rasanya aku ingin berkeliling-keliling  kota Bandung , agar masih lama sampai ke kantor . ha ha, namun  lima menit lagi akupun harus melepaskan  kemudiku untuk berpindah tangan kepada pemiliknya dan putrinya. Kemudian sebelum berpamitan aku bersalaman dengan Pak Perdian, setelah itu dengan Merlin. Sambil bersalaman , diapun berkata, ”See you again, he he” “ Siap Non, I am promise.”jawabku.

 

Puisi*  Obat Hati

Dalamnya laut bisa diduga

Namun tidak dengan ia

Mulut mudah  terucap

Namun ia tak menampakkan banyak tanda

Kadangkala ungkapannya tersirat dari gerak pemiliknya

Ia mungil tapi menguasai

Mampu menguasaiku

Ketahuilah

Bahwa ia juga terenyuh kalau disentuh

Tapi ketika kotor

Ia mampu meracuni muka bumi

Noda yang mengotorinya mudah hilang Justru bisa keras menjadi batu ketika membatu

Itu tanda marabahaya bagi dirinya dan di sekitarnya

Maka,  jagalah ia

Jangan kau kotori

Karena ia adalah lentera hidupmu

Saudara Ingatlah bahwa di dalam jasad itu

Ada segumpal daging

Jika ia baik, maka baik pula seluruh jagat

Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad

Ketahuilah bahwa ia adalah hati

Jagalah ,  obatilah jika ia sakit

Memakai firman Allah

Memperbanyak salat malam

Berkumpul dengan orang-orang saleh

Memperbanyak puasa

Memperpanjang dzikir malam

Adalah obat bagi hatimu

Lagu** SURAT CINTA UNTUK STARLA

 VIRGOUN

'Ku tuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu
'Kan teramat panjang puisi 'tuk menyuratkan cinta ini

Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah 'ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu

Aku pernah berpikir tentang hidupku tanpa ada dirimu
"Dapatkah lebih indah dari yang 'ku jalani sampai kini?"
Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi

Bila habis sudah waktu ini, tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah 'ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu
Untukmu hidup dan matiku

Bila musim berganti sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci, 'ku 'kan tetap di sini

Bila habis sudah waktu ini, tak lagi berpijak pada dunia (Bila musim berganti sampai waktu terhenti)
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu (Walau dunia membenci, 'ku 'kan tetap di sini)
Dan telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia (Bila musim berganti sampai waktu terhenti)
Karena telah 'ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu (Walau dunia membenci, 'ku 'kan tetap di sini)
Karena telah 'ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu

 

Bahasa Kalbu

Titi DJ

U-hu wu-wu wu

Kau satu terkasih
Kulihat di sinar matamu
Tersimpan kekayaan batinmu

M-mm
Di dalam senyummu
Kudengar bahasa kalbumu
Mengalun bening menggetarkan

Kini dirimu yang selalu
Bertahta di benakku
Dan aku kan mengiringi
Bersama
Di setiap langkahmu

Percayalah
Hanya diriku paling mengerti
Kegelisahan jiwamu, kasih
Dan arti kata kecewamu
Kasih, yakinlah
Hanya aku yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu, kasih
Percayalah

Kini dirimu yang selalu
Bertahta di benakku
Dan aku kan mengiringi
Bersama
Di setiap langkahmu

Kasih, yakinlah
Hanya aku yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu, kasih
Ha-aa

Percayalah
Hanya diriku paling mengerti (hanya diriku paling mengerti)
Kegelisahan jiwamu, kasih
Dan arti kata kecewamu

Dan kasih, yakinlah
Hanya aku yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu, kasih

Percayalah

 

Sampai di Rumah, aku langsung menemui ibu yang baru keluar dari kamar mandi selesai berwudlu untuk melaksanakan salat Magrib. Setelah bersalaman, akupun menundukkan kepala ke hadapan Ibu untuk dielus-elus sebagaimana biasanya. Tentram hatku  setiap tangan ibu mengelus rambutku.  Kemudian  berangkat ke Mesjid untuk mengikuti salat berjamaah, mengaji bersama parasantri, dan pulang bada Isha. Setibanya di rumah, aku diajarkan Ibu membaca kitab berikutnya sampai pukul 21.00 WIB.

Setelah selesai mengaji, aku akan menuju meja makan , namun tiba-tiba HP-ku berbunyi dari nomor yang sekarang sangat kukenal, dan insya Allah kusayangi pula. Ternyata gambar video call adalah istri Pak Ferdiansyah. Aku agak kaget dan langsung menyapa salam beliau. Beliau mengatakan ucapan terima kasih telah mengantar Bapak dan putrinya dengan selamat dan berbahagia.

Di dalam HP-nya,  Ibuku terlihat oleh beliau, kemudian dia berkata,”Adit, yang ada di sebelahmu ibumu?” katanya. “Iya, Bu. Beliau adalah ibuku, “ kataku. Diapun mengemukakan kekagumannya, “Wow, pantas Aditia  tampan, ternyata Ibunya pun sangat cantik.” Sambil tersenyum, akupun menyerahkan HP-ku kepada ibu untuk berbicara kepadanya. Ibupun tampaknya asyik bercakap-cakap dengan Dia, bahkan Pak Ferdian dan putrinya ikut meramaikan dialog dengan ibuku. Sangat berbahagia aku mendengarnya, walaupun mereka baru bertemu melalui HP, tampaknya mereka seperti mengenal sudah lama. Luar biasa, sangat jelas harmonisasi orang kota terpandang dan terpelajar dengan ibuku yang sangat lembut dan agamis.

HP yang dipegang oleh ibu diserahkan kepadaku  setelah lama berbicara dengan Merlin.  Diapun bertanya padaku, “Sedang apa? Pegal nggak tadi di jalan?” Akupun menjawab bahwa baru selesai mengaji dengan ibu dan sekarang akan makan. Akupun mengajak makan bersama sambil tertawa. Diapun segera menjawab sambil tertawa. “Siap, aku menunggu Ibumu untuk makan bersama kita sambil apa ya?”  Aku pun menjawab tegar  dan tenang di hadapan ibuku, karena melihat dari rona ibuku,  kupikir ibuku yakin mengizinkan aku untuk melamarnya” Sambil melamarmu.” Jawabku sambil tersenyum meyakinkannya.

Tampaknya Merlin  terperanjat tapi bahagia terlihat dari jawabannya yang kaku tak kalah kakunya seperti ketika aku pertama kali bersalaman dengannya. Diapun menjawab, “ Oo, ba, baiklah aku menunggumu, Kak.” Aku tersenyum sambil melihat ibuku yang tersenyum penuh arti akan ucapanku.  Penguasaan mental dan pembicaraanku  selama di ITB, kini terbuka kembali, sekarang berbanding lurus antara  nilai akademisku dengan ucapan cintaku padanya.  Serta  bisa dipertanggungjawabkan validitas dan kualitasnya.   Akupun mengajukan usul  padanya, “ Bagaimana kalau malam Minggu aku dan ibuku disertai  Pak Kiayi makan bersama di rumahmu? Aku akan membawa bekal dari rumah, Kok”, “Ya..ya, yah, aku akan menyampaikannya pada Ayah dan Ibu,” jawabnya. “Aku tidak akan bicara pada ayahmu besok di kantor, karena kurasakan ayah dan ibumu menganggapku sebagai menantu , eh, maaf seperti anaknya, “ ha ha.”  Sambil tertawa renyah penuh keanggunan, Merlin mengiyakan ucapanku dan mempersilakan aku makan malam bersama ibu.

Kesesokan harinya, pada hari Senin,  aku biasa melaksanakan rutinitas pergi ke kantor untuk melaksanakan tugas. Namun pada pagi itu hatiku sangat  riang, ingin mengetahui bagaimana respon Pak Ferdiansyah saat bertemuku, karena aku yakin bahwa Merlin tadi malam menyampaikan  perasaan hatiku untuk melamarnya. Lima menit kemudian kulihat mobil Alfad Pak Ferdiansyah masuk ke halaman kantor. Pikirku ingin melihat calon mertuaku akan  riang menyalamiku, namun aku terlalu bahagia melihat beliau, langsung saja aku menyambut kehadirannya seperti seorang anak kecil yang mengejar ayahnya ketika pulang  berbelanja dari Mall. Kehangatan batinku sangat terasa ketika bersalaman dengannya. Ingin rasanya kepalaku diusap-usap olehnya sebagaimana aku diperlakukan oleh almarhum ayahku  dulu dan oleh  ibuku kini. Kulihat Pak Ferdiansyah tertawa renyah dan sinar matanya terpancar di wajahnya.

Pekerjaanku yang sangat banyak, karena perusahaanku semakin banyak mendapat order yang luar biasa, sehingga waktu terasa sangat cepat berputar, hampir waktu istirahatpun terlupakan, namun untunglah ayahku, eh  calon mertuaku mengajakku untuk melaksanakan salat duhur. Akupun mengiyakan ajakan beliau untuk melaksanakan salat fardu, selanjutnya pergi berwudu dan mengumandangkan Adzan. Setelah selesai salat, aku makan dengan beliau menikmati makanan  yang istimewa buatan istrinya. Wah, lezatnya bukan main pikirku. Di samping  makanannya yang sangat lezat, yang menikmatinyapun  lagi Happy pula. He he.

Setelah selesai beristirahat, aku kembali melanjutkan pekerjaan sampai waktu pulang, tepatna pukul 17.00. WIB. Menjelang kami akan meninggalkan kantor, hujan lebat turun. Akupun menunggu sampai redanya hujan sambil berbincang-bincang dengan teman-temanku, termasuk seniorku Pak Ferdiansyah. Sebenarnya beliau bisa pulang pada waktunya, karena memakai mobil Alfadnya, namun Pak Seniorku tidak berani meninggalkanku, akhirnya dia mengajak ke rumahnya dan berinisiatif untuk mengantarku bersama istrinya ke kediamanku. Akupun tak menampik  ajakan baik beliau.

Aku mengendarai Alfad beliau , istrinya , dan cucunya meluncur ke rumahku. Sampai di rumah pukul 19.00 WIB. Setelah mereka melaksanakan salat, ibuku memperkenalkan mereka kepada Pak Kiayi, sedangkan aku mengcover Pak Kiayi untuk membinbing pengajian kepada para santri.  Setelah selesai pengajian, aku menemui mereka, kulihat mereka serius tapi ceria wajah-wajahnya. Kiranya sedang membicarakan tentang niatku untuk melamar Arini, PD-ku,  he he.  Waktu menunjukkan pukul 21.00 mereka pamit pulang.

Setelah beliau berpamitan, Merlin  menelponku, sambil berkata,”Nggak ngajak-ngajak  ke rumah yaa, “ sambil tertawa. Akupun menjawab,”Nanti…  kemanapun kupergi, kau akan selalu kuajak.” Merlin pun menjawab sambil tertawa, “Okey, siapa takut bersama orang ganteng, ha ha.”Setelah berbicara ke sana-kemari, akupun mengahiri pembicaraan itu dengan ucapan,” Bye honey, see  you again”

Komunikasiku sejak hari Senin itu sampai hari Kamis berjalan dengan lancar dan ceria, apalagi kalau membicarakan tentang rencana kehadiranku   untuk berkunjung bersama Ibu dan Keluarga Pak Kiayi pada Hari Sabtu depan. Namun sejak hari Jumat sore dan sabtu, tak sekalipun Merlin  membuka dan menjawabku, baik VC, maupun melalui WA. Aku bingung. Apa yang akan kulakukan? Kadang-kadang aku berpikir, mungkin Merlin sengaja tidak membalas komunikasiku, Dia akan memberikan surprise untuk hari Sabtu, sebagaimana dia menerima surprise pada saat aku mengatakan akan melamarnya. Dugaanku ternyata salah, karena pada hari Sabtu pagi, aku mendapat telpon dari ibunya  sambil menangis mengatakan bahwa Merlin terkena  positif  Copid -19. Dia sedang di karantina katanya. Kita tidak diperbolehkan untuk menemuinya.

Seperti diterkam Guntur di tengah panas  hari, aku lunglai, tubuhku sangat lemas saat mendengar berita dari ibunya, bahkan air mataku mengalir deras membasahi pipi dan  bajuku. Aku berdoa semoga Merlin cepat sehat dan dapat berkumpul dengan keluarga secepatnya. Ibuku  dan Pak Kiayi saat kukabari bahwa calon istriku terserang Covid-19, Mereka terperanjat dan terharu, apalagi saat beliau melihat air mataku mengalir deras. Melalui keimanan yang kuat, mereka segera memberikan motivasiku untuk tetap tegar dan selalu memohon doa kepada-Nya, agar penyakitnya cepat hilang.

Hari-demi hari aku intens berbicara mengenai perkembangan Arini  dengan Pak Ferdiansyah, bahkan Pak Ferdiansyah dengan penuh hormat meminta agar Ibu dan aku selalu berada di rumahnya untuk menemani istrinya selama Arini sakit.  Seijin Pak Kiayi,  Aku dan ibu  dengan sangat ikhlas menyanggupi keinginan mereka menginap di Rumahnya agar mendapat ketenangan. Pada malam harinya kami bersama keluarga Pak Ferdian mengaji memohon pertolongan dari Allah agar Arini cepat sehat.

Tiga minggu telah berlalu, namun berita mengenai kesembuhannya masih belum memuaskan kami, informasi  mengejutkan tadi pagi dari ayahnya melalui ibunya mengatakan bahwa putrinya masuk ICU. Setelah mendengar berita itu, langkahku seakan-akan tidak menapak, jalanku hampir sempoyongan, konsentrasi kinerjaku sangat menurun, walaupun aku tetap berusaha semaksimal mungkin untuk focus, harus mampu membedakan mana kepentingan pribadiku dan dunia kerjaku. Aku adalah manusia biasa,  memiliki kemampuan dan keterbatasan dimaksimalkan pun kinerjaku,  kalau hati sedang menghadapi problema yang sangat berat, tetap hasilnya tidak maksimal. Pada hari Kamis subuh sepulangnya aku dan Pak Ferdiansyah dari Mesjid dekat rumahnya  yang terdapat di komplek itu, terdengar suara-suara yang sangat nyaring dari rumahnya, setelah kubuka pintunya ternyata istrinya dan kakak Merlin sedang menangis tersedu-sedu sambil menyebut-nyebut nama adiknya, ditunggui oleh ibuku sambil  berdoa kemudian  menasihatinya untuk bersabar melihat kenyataan yang ada. Firasatku mungkin Arini meninggal dunia, maka tak ayal lagi aku tanpa basa-basi memeluk beliau sambil menangis nyaris seperti aku saat  ditinggalkan  mati oleh ayahku waktu itu. Beliaupun menangis dengan suara yang penuh kedewasaan.

Sejak pagi hari hingga siang sangat banyak tamu yang berdatangan ke rumahnya  untuk melayat keluarga yang ditinggalkan, tidak terkecuali rekan-rekan kerjaku, serta para pejabat banyak yang datang ke rumahnya untuk mengucapkan berbela sungkawa atas kematian putrinya, walaupun tidak lama berada di sana karena masih berada dalam PSBB.  “Alhamdulillah dia datang,” kata hatiku.  Pak Kiayi pun tiba di Rumah Pak Ferdiansyah. Aku sangat berbahagia atas kedatangannya, karena pikirku di samping ibuku, Pak Kiayi  insya Allah dapat meredakan kesedihan keluarga Pak Ferdiansyah dan  batinku yang begitu pilu.  Tidak lama kemudian Kami meninggalkan rumah menuju pemakaman. Kesedihan kami sangat mendalam, bahkan kakak Merlin  pingsan, karena melihat adiknya yang dikuburkan  harus dilihat dari jauh.

 

Setelah selesai  melaksanakan Tahlilan selama satu minggu di rumahnya, Aku dan ibuku pamit pulang kepada keluarga beliau. Ibupun selalu menasihati mereka salah satunya dengan kalimat Wastai`nu bissobri wassolah, dan menawarkan ajakan  kepada mereka untuk tetap menjalin rasa kekeluargaan, walaupun putrinya telah berpulah ke Rahmatulloh, kemudian Ibuku mendapat jawaban dari ibunya untuk memohon kepada ibuku bahwa beliau diijinkan mengaku Adia Putra sebagai anaknya yang diiringi oleh pengakuan Pak Ferdiansyah, bahwa aku sudah sejak lama diakui sebagai putranya. Sangat terharu aku mendengarnya. Maka sambil menangis , kami bersalaman dengan keluarga yang soleh itu.

Setibanya di rumah, aku terbaring  lesu di tempat tidur karena sakit ditinggal Merlin yang sangat berarti dalam hidupnya,  hingga berat untuk membuka  kelopak mata karena air mata senantiasa mengalir ke pipiku. Ibuku paham akan keadaan batinku, kemudian beliau mengusap-usap kepalaku untuk bersabar  karena Allah. Kupaksakan untuk selalu menatap  wajah ibu .   Aku pun berkata, “Mi,  batinku berusaha untuk selalu tegar, namun lahirku seakan-akan  tak mau merapat, mungkin terlalu rapuh untuk  menghadapi  semua ini.” “ Walaupun  kini aku tak bersamanya di alam ini, tapi melalui doamu yang suci, tolong  panjatkanlah kepada Allah  agar kelak aku bisa menemaninya di alam barzah dan di surga Allah,  yah?”

ibunya menganggukkan kepalanya dengan bijak sambil meneteskan air matanya yang sampai ke pipiku, kemudian  berkata, ”Aditia Putra, Engkau harus sabar, harus kuat, jangan menyerah pada keadaan, kalau Allah mengijinkan biar Umilah yang menyusul abimu asalkan engkau sehat walafiat. Insya Allah kamu akan sembuh NakInnama amruhu idza aroda  syaian ayyakulalahu kun fayakun.”

Aku terperanjat ketika ibuku mengucapkan namaku secara lengkap, karena biasanya beliau selalu memanggil Adit atau Dit. Aku mengiyakan ucapan ibuku, walau hanya dengan kedipan mata yang nyaris tertutup.

Puisi* Merlin

Derai air mataku takkan pernah habis

Bila kuingat semua tentang dirimu

Mungkin takkan  pernah kering air mataku

Yang terjatuh hanya untukmu

Merlin… Akan kusimpan kenangan indah saat aku bersamamu

Di dalam lubuk bingkai kasih  hatiku

Sampai ajal datang menyapa

Karena kamu …  aku mengenal cinta

Karena kamu  pula  aku mengenal arti setia

Karena kamulah  aku mengenal air mata

Tapi mengapa saat semua kau kenalkan padaku

Justru kau pergi meninggalkanku

Bukan meninggalkanku untuk sementara

Tapi untuk selamanya

Apakah aku sanggup hidup di dunia ini tanpamu

Apakah aku bisa melalui ini semua tanpa kau di sisiku

Batu nisan tertulis namamu orang yang sangat aku cinta

Tak terbendung air mataku saat aku mengantarmu

Ke pembaringanmu yang abadi

Kucoba untuk tabah menerima kenyataan ini dengan ikhlas

Meski hati masih belum menerima

Merlin… semoga kau tenang di alam barzah

Dan tempat terindah untuk wanita solehah di sana

Selamat jalan  Merlin, Kekasih terindahku

Selamat jalan sayang

Suatu saat akupun akan menyusulmu

 

Lagu ** Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Armada

Demi Tuhan
Sungguh berat aku lalui
Tanpa kamu, bersama denganmu

Sungguh sulit 'ku menolak
Untuk tak mengingat lagi
Semua kenangan yang kita lalui
Bersama

Dan aku di sini patah hati
Tak bisa terima kepergianmu
Dan semua kenyataan ini

Tapi aku tak bisa
Hidup begini terus
'Kan kujalani hidup tanpa kamu

Demi Tuhan
Sungguh-sungguh sangat berarti
Mengingatmu, semua tentangmu

Sungguh sulit 'ku menolak
Untuk tak mengingat lagi
Semua kenangan yang kita lalui
Bersama

Dan aku di sini patah hati
Tak bisa terima kepergianmu
Dan semua kenyataan ini

Tapi aku tak bisa
Hidup begini terus
'Kan kujalani hidup tanpa kamu

Dan aku di sini patah hati
Tak bisa terima kepergianmu
Dan semua kenyataan ini

Aku di sini patah hati
Tak bisa terima kepergianmu
Dan semua kenyataan ini

Tapi aku tak bisa
Hidup begini terus
'Kan kuputuskan
Engkau ...
Engkau kuikhlaskan

Demi Tuhan 

Tentang akhir cerita cinta kita

Lagu**  Mengenangmu

Kerispatih

Takkan pernah habis
Air mataku
Bila kuingat tentang dirimu
Uuuh
Mungkin hanya kau yang tau
Mengapa sampai saat ini
Kumasih sendiri

Adakah disana
Kau rindu padaku
Meski kita kini ada
Di dunia berbeda
Bila masih mungkin
Waktu kuputar
Kan kutunggu dirimu

Biarlah kusimpan
Sampai nanti aku
Kan ada disana
Tenanglah dirimu
Dalam kedamaian
Ingatlah cintaku
Kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi

Adakah disana
Kau rindu padaku
Meski kita kini ada
Di dunia berbeda
Bila masih mungkin
Waktu kuputar
Kan kutunggu dirimu

Biarlah kusimpan
Sampai nanti aku
Kan ada disana
Tenanglah dirimu
Dalam kedamaian
Ingatlah cintaku
Kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi Oooh

Biarlah kusimpan
Sampai nanti aku
Kan ada disana
Tenanglah dirimu
Dalam kedamaian
Kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi Wooo

Wooi
(Sampai nanti aku)
(Kan di sana)

Biarlah cintaku
Kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi

 

TO BE CONTINUED

Komentari Tulisan Ini